HomeUlasan Buku

Ulasan: Kami (Bukan) Sarjana Kertas

Dipublikasikan pada 01 Juni 2026

Bisa menjadi seorang sarjana memanglah luar biasa. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh lebih banyak, bahkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan pun jadi lebih besar. Meskipun demikian, nyatanya menjadi sarjana pun tidak menjamin seseorang untuk menjadi sukses.

Kali ini akau ingin mengulas sebuah buku tentang persoalan ini. Buku ini jadi salah satu buku yang membuat aku mulai tertarik untuk membaca buku fiksi (novel) saat masa kuliah. Buku yang sangat relate untuk dibaca oleh pelajar, mahasiswa, atau lulusannya.

Identitas Buku

Buku ini berjudul "Kami (Bukan) Sarjana Kertas", ditulis oleh J.S. Khairen. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit PT. Bukune Kreatif Cipta, tahun 2019. Jumlah halamannya sekitar 360 halaman.

Sinopsis

Di awal cerita, buku ini berkisah tentang dua mahasiswa yang baru masuk ke sebuah kampus yang diistilahkan "hidup segan, mati tak mau". Dua mahasiswa ini, Ogi dan Ranjau, masuk ke kampus UDEL lantaran mereka tak kunjung diterima di kampus-kampus lainnya. Meskipun mereka sama-sama memiliki masalah untuk melanjutkan pendidikan, keduanya memiliki alasan tersendiri untuk melanjutkan kuliah. Ogi lanjut kuliah karena permintaan dari orang tuanya, alias terpaksa, sedangkan Ranjau karena kesadaran dirinya sendiri.

Beberapa waktu setelah berkuliah di UDEL, Ogi dan Ranjau mulai dekat dengan beberapa orang teman yang dipertemukan dan disatukan dari sebuah kelompok kecil konseling kampus. Ogi, Ranjau, Arko, Sania, Juwisa, Cath, dan Gala. Tujuh orang dengan latar belakang dan masalah yang berbeda ini mulai menjalani kehidupan kuliah mereka yang tak lepas dari permasalahan dengan Bu Lira sebagai dosen konseling.

Karakteristik Tulisan

Penulis membagi novel ini menjadi 4 babak. Babak pertama berfokus pada permasalahan yang dialami Ogi selama di UDEL hingga akhirnya ia di-DO. Babak kedua beralih kepada kisah teman-teman Ogi yang masih melanjutkan kuliahnya di UDEL, lalu kelanjutan kisah Ogi setelah di-DO. Babak ketiga masih berkisah tentang teman-teman Ogi yang mulai memasuki paruh akhir masa kuliahnya di UDEL. Babak keempat berkisah tentang akhir perjalanan kelompok Ogi di kampus UDEL.

Cerita ini menggunakan sudut padang orang ketiga. Bahasa yang digunakan cukup ringan dan mudah dimengerti. Beberapa kali penulis juga menggunakan bahasa gaul untuk menambahkan kesan cerita. Di akhir tiap bab (episode), penulis menyisipkan kutipan kalimat motivasi atau ekspresi perasaan (quotes) yang bisa jadi bahan pemikiran dan refleksi bagi pembaca.

Penilaianku Mengenai Buku Ini

Kisah dalam "Kami (Bukan) Sarjana Kertas" ini mengalir dengan baik. Bahasanya yang ringan membuatnya cocok untuk dibaca saat santai. Tokoh yang dalam cerita begitu menarik dan punya keunikan masing-masing. Alur dan dialog ceritanya yang diatur dengan baik, membuat pembaca bisa merasakan suasana dalam ceritanya secara langsung.

Permasalahan-permasalahan yang terjadi pada tokoh, merupakan permasalahan yang relevan terjadi di masyarakat. Sehingga perjalanan tokoh dalam menghadapi masalah, mencari solusi, dan menyelesaikannya, menjadi salah satu pelajaran hidup yang bisa pembaca dapatkan setelah membaca buku ini.

Meskipun demikian, ada beberapa hal yang kurang kusukai dari buku ini. Beberapa kali bahasa gaul yang digunakan penulis dalam bercerita terkesan berlebihan dan agak mengganggu pikiran saat dibaca. Tokoh yang diceritakan cukup banyak, sehingga fokusnya kurang. Alur dalam cerita juga terkesan begitu banyak lompat-lompat, seperti halnya kehidupan kuliah selama 4 tahun dipaksakan untuk selesai dalam satu buku, dan kisah Ogi tak terlalu dibahas lagi setelah di-DO dari UDEL, padahal fokus paruh awal buku ini adalah tentang Ogi.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh pelajar dan mahasiswa, karena tema utama buku ini yaitu tentang perjuangan hidup saat masa kuliah (pendidikan) dan perjuangan untuk meraih impian. Namun, buku ini tetap relevan dibaca oleh golongan lainnya.

Skorku untuk buku ini adalah: 8/10 🌟


Bagikan: