Langsung ke konten utama

Kalah dalam hal cita-cita dengan anak kecil

 22 November 2022. Sore itu, aku shalat ashar di Mushala al Wustha Kubu. Aku berangkat agak telat, sehingga aku masbuk satu rakaat.

Saat sampai di mushala, aku melihat hanya ada satu makmum laki-laki, itu pun anak kecil yang umurnya kira-kira belum 7 tahun. Aku segera mengambil posisi dan takbir.

"Assalamualaikum warahmatullah..." Shalat imam selesai, kemudian dilanjutkan zikir secara jahar (dengan suara yang cukup keras, sehingga dapat didengar makmum). Adapun aku menambah satu rakaat lagi, karena aku masbuk.

Setelah zikir, imam membaca doa, sedangkan makmum mengaminkan. Ini merupakan kebiasaan di sekitar Parabek Kubu Nan 7 ini. Adapun dalil tantang zikir dan doa secara jahar ini sudah dijelaskan oleh banyak ulama. Salah satu tujuannya untuk pendidikan/pengajaran. Karena tidak semua masyarakat yang pandai dalam lafaz zikir dan doa tersebut.

Zikir dan doa selesai. Selesai pula runtutan kegiatan Shalat Ashar sore ini. Anak kecil tadi memanggil inyiak yang menjadi imam, "Inyik, Inyik!" Inyiak berbalik arah dan anak tersebut menyalami inyiak.

"Ini abang ustadz," kata anak itu sambil menunjuk ke dirinya sendiri.

"Ooo, ka manjadi ustadz ko. Santiang!" jawab inyiak.

Aku tersenyum melihat anak itu. Terbesit dalam hatiku, "Hebat anak ini. Apa yang menjadi motivasi anak ini dan apa yang membuatnya suka terhadap ustadz? Kemudian, ustadz seperti apa yang ia inginkan, ya?"

Dalam hati aku merasa sudah kalah dengan anak tersebut. Pertama, ia lebih dahulu datang untuk shalat daripada aku. Kemudian, ia sangat bersemangat dan percaya diri untuk menjadi ustadz—walaupun aku tidak yakin anak tersebut mengetahui apa yang dimaksud dengan ustadz tersebut, sedangkan aku sering patah semangat untuk mencapai cita-citaku.

Terlepas dari itu semua, anak tersebut menjadi pengingat bagiku, bahwa anak kecil saja berkeinginan untuk menjadi ustadz, bahkan ia sangat bangga dengan keinginannya itu. Lantas kenapa tidak dengan aku?

Aku akan lebih semangat lagi untuk kuliah, kemudian mewujudkan cita-citaku.

Semoga Allah mudahkan tiap langkah kita untuk meraih kebaikan, dan semoga Allah wujudkan keinginan dan cita-cita baik kita. Aamiin. Allahumma Aamiin.

Komentar

Popular Posts

Cukuplah Allah bagiku

Hidup di dunia sebentar, tapi terasa begitu lama karena tak memiliki kepastian akhir. Setiap orang yang di dunia pasti didatangi oleh berbagai macam permasalahan. Dan tak semuanya yang dapat menyelesaikannya. Ketika gagal, merupakan hal wajar bagi seseorang itu untuk kecewa dan putus asa. Walaupum begitu, percayalah, bahwa kekecewaan itu tak akan bertahan lama. Titipkan harapanmu pada Yang Maha Kuasa. Insyaallah semuanya akan membaik. حسبي الله و نعم الوكيل Cukuplah bagiku Allah, sebaik-baik perwakilan.

Semangat?

Pernah gak sih kamu merasa ada yang berbeda ketika lagi semangat dan gak semangat. Pas lagi semangat, apapun yang dilakukan bisa cepat selesai. Sebaliknya, kalau lagi malas, apapun itu pasti lama mengerjainnya. Bahkan ada aja alasan yang membuat kita menunda-nunda pekerjaan tersebut. Nah, sekarang coba begini. Ketika semangat, kita tidak melakukan apa-apa. Sengaja begitu. Kira-kira gimana rasanya? Tentu akan ada rasa gak enakan dan resah. Resah waktu yang ada ini gak termanfaatkan. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa semangat itu mempengaruhi hasil perbuatan seseorang. Nah, itu saja untuk kali ini. 

Perjalananku Menulis di Blog

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 27 Oktober 2023, diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Hari tersebut ditetapkan sebagai hari khusus khusus untuk memperingati dan mengapresiasi kegiatan seorang blogger. Lalu di bulan ini, November, juga ada sebuah peringatan yang masih terkait dengan kegiatan menulis, yaitu NaNoWriMo (National Novel Writing Month). Setelah mengetahui hal ini, aku tertarik ingin mengikuti tantangan di peringatan ini, meskipun tidak berpartisipasi secara langsung di acaranya. Lebih tapatnya aku ikut mengambil semangat menulisnya. Nah, kali ini aku ingin bercerita mengenai perjalananku menulis di blog. Kalau dipikir-pikir bagaimana aku bisa mulai menulis di blog, kisahnya cukup panjang. Setelah sekitar tujuh tahun semenjak aku membuat blog pertama, aku merasa kalau kemampuan menulisku masih kurang baik dan aku masih tergolong amatir. Alasannya cukup jelas, aku gak terlalu serius menulis dari dulu. Bisa dibilang berkecimpungnya diriku di blog hanya untuk mengisi w...