Langsung ke konten utama

Tanpa Kuota Internet

Tak disangka-sangka, sudah lebih satu bulan aku gak beli kuota internet. Walaupun tak punya kuota, sebenarnya aku masih tetap internetan, yaitu saat di kampus atau saat minta hotspot. Waktunya tak sesering saat aku punya kuota sendiri. Dalam sehari itu belum tentu aku bisa online, karena keterbatasan waktu dan tempat.

Selama seminggu libur ini, HP-ku benar-benar tak online, kecuali hanya di facebook gratis, itu pun hanya untuk 30 MB-an perhari. Walaupun begitu, sesekali aku minjam HP bunda untuk searching di Google atau men-download sesuatu ketika ada perlu.


Kamu tahu? Ternyata hidup tanpa internet—bagi seorang pelajar/mahasiswa—itu sulit, loh. Kamu akan melewatkan berbagai informasi penting dari kampus, guru, teman, atau orang lain. Kamu juga akan merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan rekan-rekanmu, apalagi jika ada tugas kelompok, dan masih banyak kesulitan lainnya yang akan kamu alami tanpa internet.


Melihat banyaknya kesulitan yang dialami ketika tidak ada akses internet, aku dapat menyimpulkan bahwa untuk saat ini internet sudah menjadi kebutuhan (hajiyat) manusia. Itu karena keberadaannya dapat memudahkan kesulitan yang dialami manusia dan ketiadaannya dapat menyulitkan manusia. Itu sesuai dengan pengertian hajiyat dalam ilmu ushul fiqih.


Walaupun internet memiliki banyak manfaat, terutama membawa kemudahan untuk manusia, ternyata masih ada juga dampak positif ketiadaannya—berdasarkan pengamatanku beberapa hari lalu, di antaranya:


1. Satu gangguan produktivitas hilang

Adanya internet terkadang membuat kita lupa waktu, apalagi bagi para pemuda. Kita yang awalnya ingin mengerjakan sesuatu, bisa saja teralihkan kepada hal-hal yang ada di internet, media sosial misalnya.

Media sosial yang selalu update dengan informasi; berita, dan hiburan, menawarkan berbagai hal yang dapat menarik perhatian. Setiap hari, selalu ada saja hal baru yang dapat ditemui di sana. Hal tersebutlah yang memicu rasa keinginan untuk melihat media sosial.

Tidak adanya internet dapat mengurangi keinginan kita untuk melihat media sosial tersebut. Dan itu bisa mengurangi gangguan ketika kita hendak beraktivitas dan bisa meningkatkan produktivitas kita.


2. Mengurangi motivasi kemalasan

Dahulu, seseorang dituntut lebih berusaha untuk meraih apa yang diinginkannya, seperti ilmu, informasi, ataupun harta. Untuk memperoleh ilmu dan informasi, seseorang diharuskan untuk belajar dan bertanya kepada yang lebih tahu. Setidaknya butuh waktu dan biaya yang cukup besar. Sedangkan sekarang, ilmu pengetahuan dan informasi sudah sangat mudah untuk diperoleh dengan internet. Hanya dengan mengetikkan hal yang ingin diketahui di kolom pencarian Google, kita bisa memperoleh berbagai pengetahuan dan informasi.

Walaupun begitu, kemudahan tersebut sering membuat kita lalai dan malas. Kita jadi lebih jarang berusaha dan lebih sering mencari cara yang instan. Akibatnya terciptalah pribadi yang pemalas dan tak mau berusaha.

Dengan tidak adanya internet, seseorang dituntut untuk lebih berusaha. Kalau ada tugas sekolah, maka harus banyak mencari buku untuk dibaca atau kunjungi guru untuk belajar. (Tapi kalau sudah dasar orangnya yang malas, bukannya berusaha, malah gak membuat tugas sama sekali.)


3. Berkurangnya satu sumber keburukan

Internet sebagai salah satu hasil dari globalisasi, memiliki sangat banyak manfaat. Namun kita juga tak bisa menafikan keburukan yang dihasilkannya. Jika adanya internet dapat memudahkan datangnya kebaikan, maka ia juga dapat memudahkan datangnya keburukan. Betapa banyaknya keburukan yang muncul dari internet, misalnya penipuan, pencurian data pribadi, pencemaran nama baik, pornografi, ghibah, dan lainnya. Bahkan keburukan yang semulanya berukuran kecil, dapat meningkat dangan adanya fasilitas dari internet. Semua orang bisa saja terbawa pada keburukan tersebut, baik itu sengaja ataupun tidak sengaja.

Perlu diketahui, bahwa baik atau buruknya internet itu tergantung penggunanya. Jika seseorang dapat bijak menggunakan internet, besar kemungkinan ia bisa terhindar dari keburukan tersebut.


Postingan ini hanya sebagai gambaran yang kudapatkan dari pengamatanku. Aku tidak melarang penggunaan internet, kok. Tapi bijaklah dalam menggunakannya. Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Tapi jika sekiranya yang buruk lebih banyak, maka tinggalkanlah. Kalau tak sanggup, kurangilah dan berusahalah untuk meninggalkannya, walaupun berangsur-angsur.


Sebagai penutup, aku mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan dalam postingan ini. Jika ada saran atau kritikan mohon disampaikan. Semoga kita senantiasa istiqamah dalam kebaikan dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.

Wallaahu a’lam.


Komentar

Popular Posts

Cukuplah Allah bagiku

Hidup di dunia sebentar, tapi terasa begitu lama karena tak memiliki kepastian akhir. Setiap orang yang di dunia pasti didatangi oleh berbagai macam permasalahan. Dan tak semuanya yang dapat menyelesaikannya. Ketika gagal, merupakan hal wajar bagi seseorang itu untuk kecewa dan putus asa. Walaupum begitu, percayalah, bahwa kekecewaan itu tak akan bertahan lama. Titipkan harapanmu pada Yang Maha Kuasa. Insyaallah semuanya akan membaik. حسبي الله و نعم الوكيل Cukuplah bagiku Allah, sebaik-baik perwakilan.

Semangat?

Pernah gak sih kamu merasa ada yang berbeda ketika lagi semangat dan gak semangat. Pas lagi semangat, apapun yang dilakukan bisa cepat selesai. Sebaliknya, kalau lagi malas, apapun itu pasti lama mengerjainnya. Bahkan ada aja alasan yang membuat kita menunda-nunda pekerjaan tersebut. Nah, sekarang coba begini. Ketika semangat, kita tidak melakukan apa-apa. Sengaja begitu. Kira-kira gimana rasanya? Tentu akan ada rasa gak enakan dan resah. Resah waktu yang ada ini gak termanfaatkan. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa semangat itu mempengaruhi hasil perbuatan seseorang. Nah, itu saja untuk kali ini. 

Perjalananku Menulis di Blog

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 27 Oktober 2023, diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Hari tersebut ditetapkan sebagai hari khusus khusus untuk memperingati dan mengapresiasi kegiatan seorang blogger. Lalu di bulan ini, November, juga ada sebuah peringatan yang masih terkait dengan kegiatan menulis, yaitu NaNoWriMo (National Novel Writing Month). Setelah mengetahui hal ini, aku tertarik ingin mengikuti tantangan di peringatan ini, meskipun tidak berpartisipasi secara langsung di acaranya. Lebih tapatnya aku ikut mengambil semangat menulisnya. Nah, kali ini aku ingin bercerita mengenai perjalananku menulis di blog. Kalau dipikir-pikir bagaimana aku bisa mulai menulis di blog, kisahnya cukup panjang. Setelah sekitar tujuh tahun semenjak aku membuat blog pertama, aku merasa kalau kemampuan menulisku masih kurang baik dan aku masih tergolong amatir. Alasannya cukup jelas, aku gak terlalu serius menulis dari dulu. Bisa dibilang berkecimpungnya diriku di blog hanya untuk mengisi w...